Type to search

Gaya Hidup General Tips Trik

Mengenal Tentang Pajak Penghasilan, Subjek Sekaligus Objeknya

Sebagai warga negara, membayar pajak merupakan kewajiban, khususnya bagi Anda yang sudah memiliki penghasilan tetap. Sebenarnya, pajak itu sendiri terdiri dari berbagai macam jenis. Salah satunya yakni pajak penghasilan. Lalu, sebenarnya apa yang dimaksud dengan pajak penghasilan itu sendiri?

Menurut Pasal 25 atau PPh 25, pajak penghasilan merupakan pajak yang dikenakan untuk orang pribadi, perusahaan ataupun badan hukum lainnya dari penghasilan yang didapatkan. Sama halnya dengan beberapa jenis pajak lainnya, untuk pajak penghasilan yang satu ini juga memiliki Dasar Hukum yang kuat.

Dimana Dasar Hukum dari pajak penghasilan itu sendiri ialah Undang-Undang Nomor 7 tahun 1991, Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1994, Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2000 serta Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008.

Tahukah Anda? Di Indonesia, ternyata pajak penghasilan awalnya hanya diperuntukkan bagi para perusahaan perkebunan yang didirikan di Indonesia. Nah, nama pajak penghasilan tersebut ialah PPs (Pajak Perseroan). Pajak Perseoran ini sendiri merupakan pajak yang ditujukan untuk laba perseroan serta telah diberlakukan sejak tahun 1925.

Selang beberapa lama setelah pajak hanya diperuntukan bagi para perusahaan yang ada di Indonesia, selanjutnya munculah pajak yang dikenakan untuk perseorangan atau untuk karyawan yang telah bekerja di suatu perusahaan.

Hal tersebut juga yang memunculkan Ordonasi Pajak Pendapatan pada tahun 1932. Nah, untuk Ordonasi Pajak Pendapatan ini sendiri rupanya tak hanya dikenakan para pekerja Indonesia saja, namun juga para pekerja asing yang memiliki pendapatan di Indonesia. Setelah itu, baru pada tahun 19356 keluarlah kebijakan Ordonasi Pajak Upah yang mengharuskan majikan memotong gaji atau upah para pegawainya.

Namun, apakah kebijakan pajak penghasilan yang ada saat ini masih sesuai dengan kebijakan pajak yang ada pada zaman dahulu? Untuk mengetahui jawabannya, berikut ini akan dibahas mengenai pajak penghasilan masa kini yang telah diterapkan. Namun, pertama kali akan dibahas mengenai siapakah subjek pajak itu sendiri.

Subjek Pajak

Sesuai dengan aturan yang telah ada yaitu Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 yang dimaksud dengan subjek pajak ialah meliputi:

  1. Subjek pajak pribadi yakni orang pribadi yang bertempat tinggal di Indonesia, orang pribadi yang telah berada di Indonesia selama lebih dari 183 hari (seratus delapan puluh tiga hari) yang mana dalam jangka waktu dua belas bulan, ataupun orang pribadi yang dalam suatu tahun pajak ada atau berada di Indonesia serta memiliki niat untuk bertempat tinggal di Indonesia.
  2. Subjek pajak harta warisan belum dibagi yakni sebuah warisan yang berasal dari seseorang yang sudah meninggal serta belum dibagi akan tetapi masih mengeluarkan penghasilan maka pendapatannya itu masih dikenakan pajak.
  3. Subjek pajak untuk badan-badan yang didirikan di Indonesia atau bertempat kedudukan di Indonesia, terkecuali unit tertentu dari pemerintah yang memenuhi kriteria seperti:
  • Pembetukannya telah berdasarkan ketentuan peraturan Perundang-undangan
  • Pembiayaan berasal dari sumber Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara ataupun Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah
  • Penerimaannya dimasukkan ke dalam anggaran Pemerintah Pusat ataupun Pemerintah Daerah
  • Pembukuannya diperiksa oleh aparat pengawasan fungsional negara
  • Badan usaha tetap yang mana merupakan bentuk usaha yang dapat digunakan oleh orang pribadi dan tidak bertempat tinggal di Indonesia ataupun bertempat tinggal di Indonesia ataupun berada di Indonesia tidak lebih dari 183 (seratus delapan puluh tiga) hari dalam jangka waktu dua belas bulan, ataupun badan yang tidak didirikan serta berkedudukan di Indonesia, yang melakukan kegiatan di Indonesia.

Bukan Subjek Pajak

Selain Anda harus mengetahui siapa saja yang merupakan subjek pajak, Anda juga eprlu mengetahui kiranya siapa saja yang merupakan subjek pajak. Beberapa orang atau pihak yang bukan merupakan subjek pajak nampaknya telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2000. Nah, siapakah yang bukan merupakan subjek pajak? Berikut ini penjelasannya.

  1. Badan Perwakilan Negara Asing
  2. Pejabat perwakilan diplomatik serta konsulat atau pejabat-pejabat lain dari beberapa negara asing serta orang-orang yang diperbantukan kepada meraka yang bekerja pada dan bertempat tinggal bersama mereka dengan syarat bukan Warga Negara Indonesia dan negara yang bersangkutan memberikan perlakuan timbal balik.
  3. Orgasinasi Internasionla yang telah ditetapkan oleh keputusan menteri keuangan dengan syarat Indonesia ikut dalam organisasi tersebut dan organisasi tersebut tidak melakukan kegiatan usaha di Indonesia. Contohnya yakni UNICEF, WHO, FAO dna masih banyak yang lainnya.
  4. Pejabat perwakilan organisasi internasional yang ditetapkan oleh keputusan menteri keuangan dengan syarat bukan warga negara Indonesia dan tidak memperoleh pengahsilan dari Indonesia.

Objek Pajak

Tak hanya harus mengetahui siapa saja yang menjadi subjek pajak dan bukan yang menjadi subjek pajak. Namun, penting juga bagi Anda untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan objek pajak itu sendiri. Nah, lalu apa yang dimaksud dengan objek pajak PPh 25?

Objek pajak PPh 25 adalah setiap tambahan ekonomis yang mana diterima ataupun diperoleh oleh para wajib pajak yang digunakan untuk konsumsi ataupun untuk menambah kekayaan bagi para wajib pajak yang bersangkutan.

Nah, objek pajak itu sendiri akan dihitung dalam kurung waktu satu tahun, sehingga jika wajib pajak mengalami kerugian, maka pajak yang didapatkan akan dikompensasikan dengan penghasilan yang lainnya, terkecuali kerugian yang terjadi di luar negeri.

Akan tetapi, jika terdapat penghasilan yang dikecualikan ataupun memiliki tarif pajak tersendiri, maka apabila mengalami kerugian maka hal tersebut tidak bisa untuk dikompensasikan dengan penghasilan lain yang mempunyai tarif pajak umum.

Langkah Membayar Pajak

Selain harus mengetahui tiga poin yang telah dijelaskan di atas, penting juga bagi Anda untuk mengetahui bagaimana langkah yang harus Anda lakukan untuk membayar pajak penghasilan.

  1. Pertama, wajib bagi Anda untuk menghitung penghasilan bruto setiap bulannya. Caranya yakni dengan menjumlahkan semua gaji yang Anda miliki mulai dari gaji pokok hingga tunjangan.
  2. Menghitung penghasilan bersih atau netto yang Anda miliki selama satu bulan.
  3. Langkah selanjutnya yakni dengan menghitung penghasilan bersih atau netto yang Anda dapatkan selama satu tahun. Caranya pun sangat mudah, Anda hanya perlu menghitung penghasilan bersih yang dikalikan dengan 12.
  4. Hitung juga Penghasilan Kena Pajak (PKP).
  5. Setelah itu, hitung PPh 25 yang wajib untuk Anda bayarkan.

Dengan mengetahui bagaimana cara membayar pajak penghasilan yang harus Anda lakukan semoga dapat membantu Anda untuk mempermudah dalam membayar pajak dan mengikuti peraturan dari pemerintah. Nah, informasi diatas tentu saja sangat bermanfaat bagi Anda terutama untuk membayar pajak penghasilan sebagai wajib pajak.

Tak hanya itu saja, informasi diatas juga membantu untuk meminimalisir terjadinya pergesekan gaji ataupun upah yang mungkin saja terjadi. Selain itu, semoga pembahasan mengenai subjek pajak, bukan subjek pajak, objek pajak dan bagaimana cara membayar pajak penghasilan bisa menambah wawasan Anda. Jangan lupa untuk membayar pajak secara teratur dan tepat waktu.

Leave a Comment